Drama di Balik Pembentukan AFC Nations League: Penolakan dari Beberapa Negara dan Kontroversi Naturalisasi


Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) baru-baru ini mengumumkan rencana peluncuran AFC Nations League, sebuah kompetisi baru yang terinspirasi dari UEFA Nations League di Eropa. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas pertandingan internasional di Asia, menggantikan laga persahabatan yang sering kurang kompetitif, serta memberikan peluang pengembangan bagi negara-negara anggota. Namun, pengumuman ini langsung diselimuti drama, dengan penolakan dari beberapa negara kuat dan kontroversi seputar kebijakan naturalisasi pemain, khususnya melibatkan rivalitas antara Indonesia dan Malaysia.Latar Belakang AFC Nations LeagueAFC Nations League direncanakan sebagai turnamen berjenjang, mirip dengan model Eropa, di mana negara-negara Asia dibagi menjadi liga-liga berdasarkan peringkat FIFA, seperti Liga A untuk tim elit (misalnya Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Iran) hingga Liga D untuk negara-negara berkembang. Kompetisi ini akan dimainkan selama jeda internasional, dengan promosi dan degradasi antarliga, serta hadiah berupa trofi dan potensi kualifikasi ke turnamen besar seperti Piala Asia atau bahkan Piala Dunia.Pengumuman resmi datang pada 21 Desember 2025, di mana AFC menyatakan komitmennya untuk "meningkatkan keseimbangan kompetitif dan paparan pertandingan yang bermakna." Namun, rencana ini bukan tanpa hambatan. Sejak rumor pertama muncul pada akhir 2024, ide ini telah menuai kritik karena tantangan geografis Asia yang luas, biaya perjalanan tinggi, dan kurangnya minat dari negara-negara top.Penolakan dari Negara-Negara KuatSalah satu drama utama adalah penolakan dari beberapa negara kuat di Asia Timur dan Oseania. Jepang, Korea Selatan, dan Australia dilaporkan lebih memilih bertanding melawan tim-tim dari luar Asia, seperti Eropa atau Amerika Selatan, untuk meningkatkan level permainan mereka menjelang Piala Dunia. Menurut sumber-sumber seperti diskusi di Reddit dan laporan media, negara-negara ini khawatir bahwa Nations League akan membatasi kesempatan mereka bermain laga berkualitas tinggi, sehingga lebih memilih tetap di format kualifikasi Piala Dunia yang ada.Selain itu, ada rumor tentang potensi pembagian AFC menjadi dua wilayah (Timur dan Barat) untuk mengatasi masalah logistik, seperti yang dibahas dalam forum sepak bola online. Namun, ide ini ditolak oleh sekitar 35 negara, termasuk Indonesia, Jepang, dan Korea Selatan, yang bahkan disebut-sebut sebagai "keluar dari AFC" dalam beberapa laporan sensasional. FIFA dilaporkan sedang meninjau ulang struktur ini, tetapi penolakan ini membuat AFC "panik" karena berpotensi memecah belah konfederasi. Sebuah laporan dari Indozone pada Desember 2024 bahkan menyatakan bahwa rencana Nations League "resmi dibatalkan" karena kurangnya dukungan dari negara-negara kuat, meskipun pengumuman terbaru AFC menunjukkan bahwa proyek ini masih berlanjut meski dengan modifikasi.Kontroversi Naturalisasi dan Rivalitas Indonesia-MalaysiaDrama semakin memanas dengan isu naturalisasi pemain, khususnya di Malaysia. Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) baru-baru ini memanggil 16 pemain naturalisasi atau "heritage" (keturunan) untuk skuad mereka, meskipun banding mereka ditolak oleh FIFA pada 3 November 2025. Hal ini memicu protes dari negara-negara tetangga seperti Indonesia dan Vietnam, yang menuduh Malaysia melanggar aturan FIFA tentang kewarganegaraan pemain.AFC akhirnya angkat bicara, menyatakan bahwa tidak ada keluhan resmi yang diajukan, tetapi pakar sepak bola Malaysia seperti Zulakbal Abd Karim memperingatkan bahwa larangan berpartisipasi di Nations League bisa menjadi "pukulan telak" bagi Timnas Malaysia (Harimau Malaya). Sanksi FIFA potensial ini muncul karena Malaysia dianggap menyalahgunakan kebijakan naturalisasi untuk memperkuat tim secara instan, tanpa membangun sistem pengembangan pemain lokal yang berkelanjutan.Rivalitas dengan Indonesia menambah bumbu. Beberapa video YouTube dan postingan media sosial menyebut FAM "menghasut" AFC untuk tidak mengundang Indonesia ke Nations League, dengan alasan bahwa keikutsertaan Indonesia bisa mendatangkan "cuan besar" bagi AFC berkat basis penggemar yang besar. Di sisi lain, Indonesia diprediksi tidak akan masuk Liga A, melainkan bersaing di level bawah dengan Malaysia dan Vietnam, yang bisa memicu pertemuan dramatis. PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) juga pernah memprotes wasit dalam laga melawan Arab Saudi, yang ditolak oleh FIFA dan AFC, menambah daftar keluhan regional.Dampak dan Masa DepanKurangnya sponsor menjadi ancaman lain bagi Nations League. Beberapa laporan menyebut "AFC Series" (mungkin nama alternatif) terancam batal karena tidak ada pendana yang mau mendukung, terutama di tengah sanksi terhadap FAM. Jika dibatalkan, ini bisa menjadi kemunduran bagi pengembangan sepak bola Asia, terutama bagi negara-negara ASEAN seperti Thailand, Vietnam, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Singapura, yang gagal lolos ke Piala Dunia 2026 dan membutuhkan kompetisi regional yang lebih kuat.Meski demikian, AFC tetap optimis. Dalam pernyataan resminya, mereka menekankan bahwa Nations League akan membawa "pertumbuhan berkelanjutan dan keseimbangan kompetitif." Namun, dengan penolakan dari negara-negara kunci dan kontroversi naturalisasi, masa depan turnamen ini masih penuh tanda tanya. Apakah ini akan menjadi terobosan atau justru memicu perpecahan lebih lanjut di sepak bola Asia? Hanya waktu yang akan menjawab.Sumber: Berbagai laporan dari AFC resmi, media Indonesia seperti Indozone dan TVOne, serta diskusi komunitas sepak bola internasional.

Posting Komentar untuk "Drama di Balik Pembentukan AFC Nations League: Penolakan dari Beberapa Negara dan Kontroversi Naturalisasi"